
Cahaya matahari menyusup di antara serat-serat dingin, dan berselimut cahaya kabut. Aku mulai mengurai luka hatiku, pada jerami-jerami kusut yang telah memuai lelah. Diujung musim yang menantimu, ketika salju berubah menjadi angin. Ketika kuntum mulai bermekaran. Itulah bunga-bunga musim yang tersesat dari musimnya yang lampau. Lantas dimana sepotong langit senja dan sepotong pelangi cinta.
Tak terbayang setitik kata maaf, ketika luka mengurai tangis yang tak tersisa diujung malam. Aku mengadu pada malam yang tak pernah protes pada pagi yang membuatnya tiada. Segudang luka masih membeku dihatiku, setumpuk benci masih menyisakan emosi belaka. Aku lelah tersenyum, dan berpura-pura tersenyum saat hatiku masih menangis. Tak pernah aku lupakan, malam-malam ketika aku kembali terbangun diantara tumpukan air mata yang masih menyisakan sembab. Luka ini masih menyayat begitu dalam. Aku belum mampu menyerpih hatiku dan memisahkan antara sayang dan benci. Semua berbaur dan menyesakkan dada. Hingga pernah terpikir olehku untuk mengakhiri semua kehidupan yang aku mulai 22 tahun lalu, menukar sakit hati ini dengan nyawaku, Sebab luka ini terlalu menyakitkan bagiku.
Tak pernah terbayangkan, hari jadimu akan berlangsung penuh tetesan air mata. Mungkin malam ini, hari ulang tahun ini. Adalah suatu keindahan yang tercipta diantara duka, di batas-batas cakrawala hatiku yang mengisyaratkan ini adalah perayaan terakhir. Dinner ini, kue ini, kado ini, dan senyum ini adalah yang terakhir bagimu. saat itulah aku tak mampu lagi merangkai kata-kata, saat aku tak mampu lagi menganyam luka hatiku dengan segores senyum yang dengan terpaksa aku ciptakan. Cukup sudah tangis ini menghiasi relung hatiku. Kesendirian yang aku inginkan hanya untuk mengobati bermacam luka, kecewa, dan sakit hati atas segala menghianatanmu. Dan inilah rasa hormat terakhirku yang mampu aku persembahkan dengan sederhana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar