Rabu, 13 Juli 2011

Cerita Pagi

Pagi terbangun diantara semak-semak yang masih terbungkus embun. Masih menyisakan embun-embun tipis dan dingin yang lembab. Ayam jantan masih berpesta menyambut pagi, membangunkan seluruh insan diantara dingin, dan bersorak menyambut aroma cempaka yang menari-nari disetiap indera. Sementara sayong-sayong kelambu muda yang disebarkan angin tipis tanpa raga. Serta gerimis tua tiba dalam untaian lembut lunglai seperti untaian-untaian serat kapas yang terpintal atau jerami-jerami tua padi yang pucat di tengah musim.

masih pagi ketika kau datang, ujung mantel bulu dombamu melambai diantara tarian angin. Kau hadir di senggang fana. Tertunduk wajahmu mengeja langkah, anggun wajahmu mengayun senyum dan terbata mataku menatap matamu. senyummu isyaratkan perpisahan. Aku tau, aku tak pantas ada di bola matamu. kau akan menghilang di antara kisah yang baru saja aku mulai. Begitulah pesona langit pagi menyisakan sepenggal cerita cinta di lereng gunung Batur.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar