Rabu, 20 Juli 2011

Sensasi Senja Di Kebun Jeruk


Senja telah melewati pucuk-pucuk cemara. Meninggalkan serat-serat dalam mega-mega tak bertuan. Landai ketika angin bertiup tipis. Membawa aroma bunga kopi di tempat ini. Dingin tak pernah tertinggal sejengkalpun. Sebagai suatu tanda pasti antara kabut dan dingin. Layaknya seperti mimpi bisa bersamamu disini. Kau terindah , yang mampu membuat tubuhku bergetar. Membuat jantungku berdetak bertalu-talu. Dan denyut nadi seirama detak jantungku. Kau ciptakan sensasi terhadap hasrat dan batinku. Seindah mimpi-mimpi di ujung pagi yang sunyi. Kan ku simpan senyum-senyum kecilmu. Kan selalu ku rindu senyum-senyum kecilmu. Kan ku jadikan kenangan lucu saat kau pergi. Kan selalu ku ingat sensasi senja di kebun jeruk.


By : Putri Mariani

Untuk seorang kakak yang akan selalu aku kenang

Rabu, 13 Juli 2011

Cerita Pagi

Pagi terbangun diantara semak-semak yang masih terbungkus embun. Masih menyisakan embun-embun tipis dan dingin yang lembab. Ayam jantan masih berpesta menyambut pagi, membangunkan seluruh insan diantara dingin, dan bersorak menyambut aroma cempaka yang menari-nari disetiap indera. Sementara sayong-sayong kelambu muda yang disebarkan angin tipis tanpa raga. Serta gerimis tua tiba dalam untaian lembut lunglai seperti untaian-untaian serat kapas yang terpintal atau jerami-jerami tua padi yang pucat di tengah musim.

masih pagi ketika kau datang, ujung mantel bulu dombamu melambai diantara tarian angin. Kau hadir di senggang fana. Tertunduk wajahmu mengeja langkah, anggun wajahmu mengayun senyum dan terbata mataku menatap matamu. senyummu isyaratkan perpisahan. Aku tau, aku tak pantas ada di bola matamu. kau akan menghilang di antara kisah yang baru saja aku mulai. Begitulah pesona langit pagi menyisakan sepenggal cerita cinta di lereng gunung Batur.



Sensasi Malam Di Kintamani


Senja telah tiba di desa ini. Gelap mulai berdatangan, menutup eloknya danau Batur. Hitam malam telah menghilangkan birunya. tak bergeming sedikitpun. terapit gagahnya gunung Batur dan Gunung Abang.

Serangga malam menyampaikan pesan-pesan rindu yang di kemas dalam dingin. ketika embun malam mulai berjatuhan di ujung rumput dalam gelap. serta sayong-sayong tua yang disebarkan angin, berikut serat-serat yang tak luput dilalui dingin. Dan kini gerimis tiba dalam untaian lembut yang lunglai.

apa yang kau nanti malam ini, selimut hangat atau tungku kayu bakar yang menebarkan asap. Dalam baranya yang alirkan hangat di tubuhmu.


Perayaan Terakhir


Cahaya matahari menyusup di antara serat-serat dingin, dan berselimut cahaya kabut. Aku mulai mengurai luka hatiku, pada jerami-jerami kusut yang telah memuai lelah. Diujung musim yang menantimu, ketika salju berubah menjadi angin. Ketika kuntum mulai bermekaran. Itulah bunga-bunga musim yang tersesat dari musimnya yang lampau. Lantas dimana sepotong langit senja dan sepotong pelangi cinta.

Tak terbayang setitik kata maaf, ketika luka mengurai tangis yang tak tersisa diujung malam. Aku mengadu pada malam yang tak pernah protes pada pagi yang membuatnya tiada. Segudang luka masih membeku dihatiku, setumpuk benci masih menyisakan emosi belaka. Aku lelah tersenyum, dan berpura-pura tersenyum saat hatiku masih menangis. Tak pernah aku lupakan, malam-malam ketika aku kembali terbangun diantara tumpukan air mata yang masih menyisakan sembab. Luka ini masih menyayat begitu dalam. Aku belum mampu menyerpih hatiku dan memisahkan antara sayang dan benci. Semua berbaur dan menyesakkan dada. Hingga pernah terpikir olehku untuk mengakhiri semua kehidupan yang aku mulai 22 tahun lalu, menukar sakit hati ini dengan nyawaku, Sebab luka ini terlalu menyakitkan bagiku.

Tak pernah terbayangkan, hari jadimu akan berlangsung penuh tetesan air mata. Mungkin malam ini, hari ulang tahun ini. Adalah suatu keindahan yang tercipta diantara duka, di batas-batas cakrawala hatiku yang mengisyaratkan ini adalah perayaan terakhir. Dinner ini, kue ini, kado ini, dan senyum ini adalah yang terakhir bagimu. saat itulah aku tak mampu lagi merangkai kata-kata, saat aku tak mampu lagi menganyam luka hatiku dengan segores senyum yang dengan terpaksa aku ciptakan. Cukup sudah tangis ini menghiasi relung hatiku. Kesendirian yang aku inginkan hanya untuk mengobati bermacam luka, kecewa, dan sakit hati atas segala menghianatanmu. Dan inilah rasa hormat terakhirku yang mampu aku persembahkan dengan sederhana.