Rabu, 23 Mei 2012

Pernah Ada Rindu

Menatapmu

Pernah aku letakkan rindu di bola matamu, pernah aku merindukan tatapan mata, dan suara lirihmu. Pernah aku mengejar bayangmu yang kian menghilang di gelap malam, pernah aku mencari jejakmu yang telah tersapu gerimis tua. Dan saat itu aku hanya mampu menggenggam pasir halus yang tak menyisakan jejak kakimu.

Pernah aku tersesat di gelap malam yang menakutkan, tanpa cahaya, saat mengejar bayangmu yang kian memudar, kemudian lenyap di telan kabut malam. Kau tau aku sangat takut gelap, tapi kau menghilang dalam gelap dan membuatku tersesat di tengah gelap malam. Aku tertatih melangkah, meraba dinding-dinding dingin, dalam lorong tak bertuan. Hanya cahaya air mata yang membantuku untuk pulang.

Ketika aku telah dirumah, aku terlalu takut untuk pergi lagi, aku terlalu takut untuk tersesat dalam gelap malam. Berulang kali aku menganyam rindu di dalam perdu, sebelum akhirnya aku putuskan menjadi wanita penunggu hujan.

Sebatas Fantasi


Inilah dunia yang aku ciptakan untukmu
Mungkin aku salah, karena pernah menerima kehangatan senja yang kau tawarkan saat cahaya subuh datang. Setiap kali kau membungkus kehangatan senja dalam senyummu, kau selalu hadirkan cerita cahaya subuh serta kedinginan yang hampa.  Awalnya cahaya subuh aku kira hanya akan melintas sebentar saja dalam hidupku, setelah itu kehangatan senja yang kau tawarkan akan aku rasakan lebih panjang. Tapi ternyata aku salah, malam selalu menelan senja dan kehangatannya. Dan ketika kau menemaniku dengan cahaya subuh, matahari selalu menelannya. Tak pernah kau hadirkan kisah, ketika fajar kehilangan matahari. Mungkin dengan kisah itu, matahari tidak mampu menelan cahaya subuh.
Dan mungkin, aku hanya bagian dari cerita yang terkubur ego. Cerita yang terkadang membuat sekian banyak orang membenciku, sebagian orang menganggapku tiada, sebagian orang menganggapku hidup dalam negeri dongeng, sebagian orang mencibir seluruh keburukan dan sisi gelapku, namun tidak sedikit pula yang memuja kisahku dan menambahkannya dengan imajinasi dan fantasi yang berbeda-beda. Serupa dengan kisah doraemon, yang selalu mampu mengubah hayalan menjadi kenyataan, seperti kisah doraemon di kerajaan awan, kisah doraemon di megic planet, atau terkadang dia bermain-main dengan mesin waktu yang selalu siap mengatarkan mereka ke jaman lampau dimana peradaban manusia belum pernah ada, atau sebaliknya pergi kejaman 2000tahun yang akan datang dengan manusia super canggihnya.
Banyak orang yang berkata “realistis” setiap kali aku menceritakan imajinasiku yang tidak beda jauh dengan kisah-kisah doraemon. Eiittt…..ini kan imajinasi, ini sebuah fantasi, sah-sah saja kan? Tidak ada yang bisa melarangnya, seperti kehangatan senja yang selalu menghilang ketika aku membutuhkannya, dan datang lagi ketika hatiku membatu. Bukankah kehangatan senja selalu datang dan pergi semaunya, tanpa ada yang mampu melarang atau menahannya semenit saja untuk mengeringkan air mataku?
Begitu juga dengan gelap yang selalu menelan senja, dan matahari yang selalu menelan cahaya subuh. Bukankah tidak ada yang pernah mampu membuat fajar kehilangan mataharinya? Biar dalam imajinasiku, kuhidupkan semua kisah seperti yang aku impikan, serupa dengan kisah doraemon.

Awal Musim Semi


Awal musim semi telah tiba disini, saat bunga-bunga tulip mulai memerahkan ladang yang sempat mengering. Tetesan embun masih tersisa di ujung kelopaknya. Saat ini tunas-tunas baru tumbuh dengan senyum ceria, menyimpan kisah selama  menanti musim berlalu. Mengupas kelopak-kelopak rindu di musim semi.