
Banyak luka telah engkau torehkan di hatiku, Luka serupa senyum yang ku sampaikan pada gelagah senja. Yang memuai kegelisahan setiap angin berhembus. Sebab setiap hembusan angin selalu membawa luka. Luka-luka tak kasat mata, yang mengukir jiwaku dengan pahat yang membara. Hampir saja aku meragukan surga ditelapak kakimu, Ibu. Sejak kurasa kasih sayangmu tak seindah dulu. Aku merasa asing dalam setiap kebersamaan yang tercipta. Sejak aku selalu dianggap salah. Hingga aku. menyerah untuk menemukan sebuah kebenaran. Sebab waktu dan kebohongan telah mengubur mata hatimu
Bahkan kau acuhkan aku, saat aku sendiri. Saat aku menangis dalam gelap malam, Saat mimpi-mimpi masih mengembara diujung malam. Saat dalam takutku sendiri, mencoba melawan kanker yang menari-nari di tubuhku. Saat itu,……………….. aku selalu menangis dan ketakutan setiap darah mengalir dari mulutku
Lihatlah sekarang ibu, putrimu telah siap menyambut kematian. Sepertinya kematian lebih damai. Saat aku akan merasa lebih hangat dalam belaian malaikat. Luka yang engkau ciptakan, akan terbayar dengan kematian. Dan sakit tubuhku tak sama dengan sakit hatiku
Lihatlah ibu, kini aku tak lagi menangis. Saat cairan merah mengalir dari hidung dan mulutku. Justru aku tersenyum senang, sebab aku telah dekat dengan kedamaian. Jangan tangisi tubuhku yang membiru ibu. Sebab kau sudah terlambat untuk tau penyakitku. Kau abaikan aku dengan segala penderitaanku. Jangan pernah menangis untukku ibu, Sebab tangismu sudah tidak mampu membayar luka hatiku. Aku tak menganggap ini sebagai kebencian darimu. Selebihnya engkau telah membantuku menuju kedamaian. Lebih cepat dari yang ku duga, Tapi aku sudah siap menyambut kematian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar