Minggu, 16 Februari 2014

Operasi Angkat Pen



5 tahun lewat sudah kecelakaan maut yang dialami oleh suamiku (pada saat itu belum setahun pacaran) tepatnya bulan Juni 2008, kecelakaan antara motor dengan mobil yang di kendarai oleh bule asal Haiti. Sejak saat itu pula di kaki kirinya di tanam pen untuk menyambung kembali tukang kecil dan tulang kering yang patah. Sementara tangan kanan dan kiri di beri  gips. 5 tahun sudah berlalu ketika motor Tuner birunya hancur menjadi rongsokan. 
9 October 2013 (Bali Med Hospital)

9 October 2013 - Bali Med Hospital

6 Juni 2008 - Poltabes Denpasar

6 Juni 2008 - RSAD Denpasar

9 Oktober 2013, akhirnya rejeki kami terkumpul untuk biaya operasi pelepasan pen. Operasi di lakukan di Rumah Sakit Bali Med, oleh Dr. I Gusti Lanang NA Arta Wiguna, SP.OT  dengan doa yang tak henti akhirnya operasi berjalan lancar. Suamiku keluar dari ruang operasi sekitar jam 10 malam.
Setelah ini kami berharap tidak ada lagi kejadian seperti ini atau yang lainya yang membuat kami larut dalam kesedihan. Terima kasih Tuhan, telah lancarkan segalanya.

Mencari kembali kawitan yang lama hilang.



Pura kawitan adalah pura yang di dirikan oleh leluhur kita. Ada bermacam-macam kawitan berdasarkan ilennya masing-masing. Dulu ketika aku belum menikah, aku di lahirkan di kelurga dengan pasek batu dinding. Namun setelah menikah suami memiliki pasek kayu selem. Pasek inipun baru mereka sadari belum lama ini setelah sekian lama tidak tau paseknya. 



Tanggal 23 Juni tahun 2013, dadiaku menghaturkan banten guru piduka di Pura Kawitan Kayu Selem, yang terletak di desa Songan, Kintamani, Kabupaten Bangli. Sungguh perjalanan yang luar biasa. Berangkat sekitar jam 10 pagi dan mampir sembahyang di pura Ponjok Batu, kemudian perjalanan di lanjutkan menuju Pura Kayu Selem. Jalan kecil berliku dengan kerusakan parah, membuat perut terguncang. Bahkan beberapa kali harus turun dari mobil karena mobil tidak kuat melalui jalan menanjak. Dan para lelaki bahu membahu mendorong mobil. Segala doa  aku panjatkan di sepanjang perjalanan yang terjal dan berdampingan dengan jurang-jurang yang curam. Sama sekali tidak berani membayangkan jika salah satu mobil, ataupun mobil yang aku tumpangi tidak memiliki rem yang bagus, atau sopir yang tidak berpengalaman melalui jalanan seperti ini. Mantram Gayatri selalu ku alunkan di dalam hati untuk menenangkan jiwaku.
Ketika di puncak, lelah dan khawatirku terbayar sudah dengan pemandangan yang begitu indah. Laut yang membiru terlihat di kejauhan dengan hijau dataran rendah yang mempesona. Tak begeming sedikitpun. Dan ketika angin mengantarkan dingin bersamaan dengan kabut yang menyapa. Sungguh mata dimanjakan oleh pemandangan alamnya, dan lelahpun sirna.